Eps 16. Agen Mossad itu Ada di Sini!!!

March 9, 2012 - 2 Responses

badcf55d85907db3c7ee8efb4e09fc44_mossad

SIGIT Bhuwono menatap sekeliling. Joyluv Resto nampak ramai. Hampir semua kursi terisi. Pengunjung umumnya mahasiswa dan karyawan, yang asyik dengan laptop masing-masing. Joyluv Resto memang menyediakan layanan Wi-Fi berkecepatan tinggi, yang menjadi salah satu daya tarik.

Namun bukan mahasiswa dan karyawan itu yang menarik perhatian Sigit, melainkan beberapa orang asing yang ikut larut dalam keramaian. Yang pertama, seorang lelaki yang duduk dekat pintu masuk.  Dia berusia 30-an, berwajah khas Kaukasia dengan guratan memanjang di pipi sebelah kanan. Lelaki yang sedang asyik membaca majalah National Geographic itu bernama Jack Garreth, agen CIA untuk kawasan ASEAN. Di dunia intelejen, dia dikenal dengan julukan si Bunglon, karena kemampuan beradaptasi dan menyamar yang sukar dicari bandingannya.

Orang asing kedua adalah perempuan berwajah cantik, dan dari jauh terlihat lemah lembut. Wajah perempuan berambut pirang ini mirip aktris Natalie Portman. Namun Sigit tahu, gadis cantik ini bukan orang sembarangan. Dia bernama Carmen Ann-Baker, agen  MI6 Inggris yang dikenal dengan nama sandi 009. Angka 00 merupakan pertanda kalau Carmen diberi hak untuk membunuh siapapun yang dianggap bisa mengganggu stabilitas dan keselamatan Kerajaan Inggris. Ini bukan yang pertama kali Sigit bertemu agen MI6. Tahun lalu di Singapura Sigit pernah berkenalan dengan agen MI6 lainnya, seorang lelaki tampan namun kasar dan dingin. Ketika berkenalan, lelaki dengan sandi 007 itu menyebut namanya sebagai JB!! Read the rest of this entry »

Eps 15. Alamat Palsu

October 14, 2011 - One Response

enkripsi

Anandita mengamati serpihan bom yang rapih tersusun di meja kerjanya. Terdapat angka yang ditulis di sebuah segitiga kuning yang berdiri di depan setiap serpihan bom tersebut.

Ia bangkit perlahan. Dibukanya jas lab yang ia kenakan dan disangkutkannya ke sebuah gantungan di pojok ruangan. Dari dalam lemari ia mengambil sebuah jas lain yang kemudian ia kenakan menutupi blusnya yang berwarna kelabu.

Kedua jas itu sama-sama berwarna hitam hanya saja kegunaanya berbeda. Jas lab itu harus ditinggalkan dalam ruangan untuk mencegah terbawanya bahan berbahaya keluar ruangan.

Anandita atau Refala, begitu dia biasa dipanggil oleh rekan-rekannya di Lembaga Intelejen Nasional (LIN) adalah seorang petugas analisa yang sangat cakap. Ia petugas yang diandalkan dalam hal forensik dan kemampuannya dalam bidang teknologi informasi sangat luar biasa. Read the rest of this entry »

Eps 14. Gagak Malam Menyerbu Istana

August 17, 2011 - 2 Responses

Lorong Batavia, masa kini

PARA lelaki itu menelusuri lorong dalam kebisuan. Langkah mereka pasti, menyiratkan kesungguhan. Mereka mengenakan pakaian ringkas berwarna hitam. Masing-masing menggenggam senjata otomatis yang dilengkapi lampu kecil. Ransel kecil ‘menghiasi’ punggung. Wajah mereka ditutupi topeng ski yang terbuat dari kain berwarna hitam. Dalam kegelapan mata mereka terlihat seperti menyala. Berkobar dalam hasrat.

senjata-gagak-malam

“Masih jauh, Walet Cilik?”

“Sedikit lagi, Gagak Malam. Sekitar 50 meter lagi,” sahut lelaki bertubuh kecil yang disapa Walet Cilik, sambil menatap sebuah alat yang berkedip di tangannya. Lelaki bertubuh kecil itu satu-satunya yang tidak membawa senjata. Namun alat berkedip di tangannya jauh lebih bernilai, dan lebih berbahaya dibanding senjata paling mematikan yang pernah ada. Dengan alat berkedip itu Walet Cilik bisa memanipulasi teknologi!! Read the rest of this entry »

Eps 13. Cinta Abadi

July 4, 2011 - One Response

Sekar mengangkat bahunya. Ia menggeleng pelan tetapi matanya awas menatap layar. Sigit alias Dosifa memperhatikan gadis cantik disampingnya. Tapi lalu ia mengedipkan matanya, mengembalikan konsentrasinya pada catatan kaki itu.

Sarwana dan Gumilang duduk di bangku,menunggu. Pemecahan sandi dan kode itu tugasnya Dosifa, pikir mereka.

Remido tersenyum-senyum, “Jadi menurut catat ..”

“Tunggu aku tahu kalimat rahasia dalam lirik lagu ini!” Suara sekar yang lembut tetapi tegas memotong penjelasan Remido. Ia tersenyum. Senyumnya polos tapi matanya berkilat-kilat.

“Dan kode itu ada padaku?” Tanyanya pelan pada Remido. Remido mengangguk. Tampak sekali ia terkesan pada gadis di hadapannya ini.

Read the rest of this entry »

Eps 12. Adakah Waktu Tersisa?

June 27, 2011 - 2 Responses

KANTOR Yayasan Tarisi yang letaknya tidak menyolok karena merupakan kamuflase dari dinas intelejen rahasia ini nampak sibuk. Ledakan bom yang mengguncang Tanah Air secara langsung juga mengguncang yayasan.

Mereka berempat memasuki pintu masuk utama. Setelah melalui pemeriksaan rutin standar yakni scan retina mata dan telapak tangan (diwakili oleh Sigit) mereka memasuki sebuah ruangan yang memiliki pintu otomatis. Seorang perempuan cantik menyambut dengan senyum. Senyum gadis itu seakan mampu menghangatkan ruangan yang terasa dingin menusuk itu.

“Halo Silado, Bos ada? Kami membawa Sekar,” kata Sigit.

“Bos ada tuh. Tapi dia sibuk. Sekarang lagi video conference dengan Bravo 22, Kilo 60 dan Double Delta,” ujar si gadis yang disapa Silado itu sambil melirik Sekar. Silado adalah sekretaris sekaligus orang kepercayaan bos besar.

Sigit mengangguk paham. Bravo 22 adalah nama sandi untuk Kepala BIN, lembaga intelejen resmi pemerintah. Kilo 60 adalah nama lain untuk Kapolri dan Double Delta adalah istilah untuk pimpinan Detasemen 88.

“Aku mengerti. Bagaimana situasinya? Identitas pengebom sudah diketahui?” tanya Sigit lagi. Read the rest of this entry »

Eps 11. Burung Merah itu Masih Perawan

June 13, 2011 - 15 Responses

SIGIT Bhuwono kembali melirik jam tangannya. Sudah hampir pukul 10 pagi. Dan Sekar belum juga muncul.

Sigit membuka notebooknya. Di saat harus menunggu seperti ini, satu-satunya cara untuk mengusir kebosanan adalah membaca. Memang, smartphonenya juga bisa mengakses semua situs. Namun Sigit tetap tidak merasa nyaman membaca dari smartphone yang kecil.

Beberapa detik kemudian, Sigit sudah terbenam dalam lautan dunia maya. Menelusuri blog dan situs yang menyajikan limpahan informasi.

Tiba-tiba smartphonenya berkedip. Ternyata dari Remido.

“Ada informasi menarik tentang Sekar yang mungkin perlu kau ketahui,” kata Remido. “Aku sudah mengirimkan berkasnya melalui email”.

Sigit membuka emailnya, sambil terus mendengarkan Remido berceloteh. Lelaki yang bekerja di bagian IT ini memang suka bicara.

“Seperti yang bisa kau lihat, Sekar bukan gadis biasa. Dia ternyata pernah mendapat medali emas di PON untuk cabang Pencak Silat. Dia bahkan sempat disiapkan untuk mengikuti Sea Games dan Asian Games, namun dia menolak mengikuti pemusatan latihan…” Read the rest of this entry »

Eps 10. Kunci Buku Biru Sang Wartawan

June 9, 2011 - 2 Responses

(Kisah ini terjadi 2 tahun 6 bulan 13 hari 2 jam 10 menit dan 37 detik sebelum kejadian yang dipaparkan pada Eps 9)

Koswara menengok ke belakang. Ia mempercepat langkahnya. Nalurinya mengatakan ia sedang dibuntuti. Mendadak ia berbelok ke sebuah kedai kopi.

Koswara meletakan tas di sebuah kursi dan duduk di kursi yang lain. Kedai itu sedang ramai. Beberapa orang mengantri di belakang meja kasir. Para baristra sibuk menyiapkan pesanan.

Koswara memperhatikan pintu masuk. Ada seseorang yang membuntutinya, ia yakin sekali. Orang itu mengenakan topi. Ia berjalan menunduk sehingga bagian depan topinya menutupi setengah wajahnya. Tangannya dimasukkan ke kantung jaket coklatnya. Jaket kulit, Koswara menebak.

Tetapi orang itu melewati kedai tanpa menoleh ke dalam. Tak sadar, Koswara menghela nafas kendati masih memandang ke arah pintu. Diperhatikannya orang-orang yang lalu lalang.  Seorang ibu masuk bersama gadis kecil yang menggandeng tangannya. Seorang bapak keluar sambil membawa gelas kopinya.

Seorang wanita muda tiba-tiba masuk. Ia terlihat repot dengan beberapa tas belanjanya. Merek-merek terkenal tercetak di bagian luar tas-tas tersebut. Seharusnya ia tidak mengenakan sepatu hak tinggi jika hendak berbelanja sebanyak itu, pikir Koswara sambil tersenyum simpul. Read the rest of this entry »

Eps 9. Target: RI 1

June 6, 2011 - 8 Responses

“Lapor pak. Sasaran mereka RI 1. Mareka akan menyerang…”

“Halo Sekar? Suaramu tidak jelas. Putus-putus…”

“… Istana Negara… Mereka akan menyerang Istana…”

“Sekar? Belum jelas. Aku sambungkan dengan speaker ya?”

“Ok pak. Nanti aku cari… yang lebih baik…”

Terdengar bunyi kresek-kresek, diikuti suara bening seorang perempuan.

Halo pak, bisa dengar saya?”

“Loud and clear Sekar. Bagaimana?”

“Sudah dikonfirmasi pak. Target Monas dan Bank Centurion itu hanya pengalihan. Target mereka RI 1. Mereka akan menyerang Istana Negara…” Read the rest of this entry »

OGH 8: Pembicaraan Rahasia di Istana Presiden…

July 28, 2009 - 18 Responses

EMPAT jam setelah ledakan di hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton dan satu jam setelah memberikan keterangan pers resmi, Presiden memanggil dua penasehatnya  yang juga merangkap juru bicara, Andi Marangeng dan Doni Patti Djalil untuk bicara di ruang kerja. Wajah presiden nampak gundah. Perasaannya campur-aduk, antara marah, geram, kesal, kecewa, sakit hati….

bom1

“Bagaimana perkembangannya sekarang?” Presiden berujar pelan. Dia melirik sekilas ke arah Andi.

Merasa kalau pertanyaan ditujukan padanya, Andi terbatuk sebentar. Setelah tersenyum (Andi memang biasanya selalu tersenyum sebelum bicara), lelaki yang memelihara kumis lebat ini berujar,” Ada beberapa skenario yang sekarang dilacak. Namun sejauh ini belum ada perkembangan berarti…”

Presiden mengangguk. Keningnya berkerut, tanda dia berpikir keras.

“Apakah ada tanda-tanda keterlibatan pihak asing?” Read the rest of this entry »

OGH 7: Bom yang Menampar Wajah…

July 21, 2009 - 8 Responses

SIGIT Bhuwono perlahan memasuki joynluv resto. Untung sudah buka, pikirnya. Tempat itu sepi. Hanya ada dua pengunjung selain dirinya . Yang seorang, laki-laki berkacamata yang sedang membaca koran. Dan di ujung nampak seorang pemuda yang asyik dengan telepon genggam.

Sigit duduk di pojok, tempat yang memungkinkan dia mengawasi seluruh ruangan, termasuk pintu depan.

Dia mengkertakkan gigi. Rasa geram memenuhi hatinya. Beberapa saat lalu dia mendapat pemberitahuan penting. Pemberitahuan yang membuat seluruh yayasan gempar. Jakarta dibom. Dua hotel, JW Marriot dan Ritz Carlton dibom!!

Sebagai orang yang bekerja di intelejen, aksi pemboman ini merupakan arang yang mencoreng wajah.

Bos besar segera dipanggil menghadap presiden. Presiden yang baru saja memastikan bakal kembali memimpin negeri, marah besar. Intelejen dianggapnya lengah!! Read the rest of this entry »